Tampilkan postingan dengan label psikologi umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi umum. Tampilkan semua postingan

ANAK LAKI-LAKI LEBIH AKTIF DARI PADA ANAK PEREMPUAN. MITOS ATAU FAKTA?

Juni 06, 2023 Add Comment

Dalam pengasuhan kadang orang tua menerima bias gender dari lingkungannya. Seperti anak perempuan lebih cepat berbicara sedangkan anak laki-laki lebih lamban. Sebaliknya untuk perkembangan fisik anak laki-laki justru lebih cepat dibandingkan anak perempuan. Dalam permainan pun kadang ditemukan pengelompokan khusus seperti anak laki-laki lebih suka lari-larian atau memanjat. Sedangkan anak perempuan lebih suka main boneka dan bermain masak-masakan.                         

Alasan secara biologis adalah disebabkan anak perempuan yang kurang aktif secara fisik karena alasan kematangan seksual yang terkait usia kronologis anak perempuan lebih awal matang dibadingkan anak laki-laki. Selain itu disebabkan oleh body fat anak perempuan ternyata lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki pada masa sebelum pubertas.

Penelitian yang menarik dari Telford, R, M dkk tahun 2016, yang melakukan studi longitudinal yang menguji apakah anak perempuan kurang aktif dibandingkan anak laki-laki pada usia 8 hingga 12 tahun. Ada beberapa pebandingan aspek pengukuran dalam penelitian ini yang menjadi highlight beserta hasilnya. Berikut ini penjelesan :

✅ Cardio respiratory fitness, yang diukur dengan waktu berlari hasilnya anak laki-laki lebih banyak berlari dibandingkan anak perempuan.

✅ Physical activity (steps/day), anak laki-laki lebih banyak berjalan.

  Eye hand coordination, yang diukur jumlah menangkap bola, hasilnya juga anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan anak perempuan.

✅ Perceived competence in PA (physical activity), anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Anak perempuan lebih rendah keterlibatannya dalam kegiatan olahraga ekstrakurikuler.

 

Pengukuran aspek-aspek diatas ternyata tidak begitu berbeda dengan kata lain bertahan hingga anak berusia 12 tahun. Uniknya pada usia 12 tahun dukungan orangtua dalam kegiatan aktivitas fisik lebih tinggi anak laki-laki dibandingkan perempuan. Hal ini dikarenakan keterlibatan anak laki-laki dalam kegiatan jasmani lebih tinggi dibandingkan anak perempuan.

Tingginya aktivitas fisik anak laki-laki berkaitan dengan persepsi akan kemampuannya untuk terlibat yang juga tinggi dibandingkan anak perempuan. Sehingga membuat dukungan orang tua pada saat anak berusia 12 tahun pun juga lebih tinggi anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.

Penelitian ini memperlihatkan rendahnya aktifitas fisik anak perempuan dibandingkan anak laki-laki disebabkan oleh rendahnya minat anak perempuan (persepsi kemampuan melakukan kegiatan aktivitas fisik) terlibat dalam kegiatan olahraga baik di komunitas atau disekolah yang berefek rendahnya dukungan keluarga dan sekolah, sehingga ini membuat anak perempuan kurang aktif dibandingkan anak laki-laki.

Sekolah sebagai tempat anak mendapat pendidikan jasmani perlu mempertimbangkan apakah anak laki-laki dan anak perempuan dicampur bersama, mengingat  karena kegiatan yang berfokus pada kinerja fisik cenderung mendukung anak laki-laki dibandingkan anak perempuan bahkan sebelum masa pubertas berlangsung.

Dari penelitian ini kita belajar bahwa jangan-jangan bukan anak perempuan yang kurang aktif tetapi anak perempuan yang kurang mendapatkan kesempatan dan dukungan yang setara dalam aktivitas fisik. Oleh karenanya pada beberapa kondisi kita perlu memodifikasi lingkungan dengan tidak menggabungkan antara anak laki-laki dan perempuan dalam aktivitas fisik untuk meningkatkan keterlibatan dan motivasi anak perempuan dalam kegiatan fisik/olahraga jasmani. 

Jika ingin menggabungkan kegiatan fisik antara laki-laki dan perempuan perlu dilakukan penyeleksian minat dan tingkat kemampuan sehingga tidak ada lagi persepsi bagi anak perempuan bahwa mereka tidak mampu melakukan kegiatan fisik.

 

 Sumber:

Telford RM, Telford RD, Olive LS, Cochrane T, Davey R. (2016). Why are girls less physically active than boys?. findings from the look longitudinal study. PLoS ONE 11(3): e0150041. doi:10.1371/journal.pone.0150041


Apakah Orang Kreatif adalah Orang yang Cerdas?

Mei 05, 2023 Add Comment

The Global Creativity Index (GCI)  yang dilakukan Martin Prosperity Institute pada tahun 2015 menunjukkan bahwa dari 139 negara yang diteliti Indonesia berada diperingkat ke- 115. Padahal kreativitas merupakan psychological trait yang amat penting untuk terciptanya karya kreatif, karakter positif individu, sebagai modal daya saing manusia dan sebagai keterampilan hidup sehari-hari. Salah satu faktor penting yang berperan dalam kreativitas adalah Kecerdasan (Intelligence), yang merupakan salah satu kemampuan individu yang menjadi pondasi penting untuk pengembangan kemampuan berpikir kreatif.
 
Otak adalah karunia dari Tuhan YME yang patut kita syukuri. Semua perilaku kita hampir semuanya di atur oleh otak. Otak mengirimkan sinyal keseluruh tubuh yang membuat kita bisa berkedip, berjalan, tidur dll. Kecerdasan adalah salah satu bentuk dari hebatnya kemampuan berpikir dari otak manusia. 

Kecerdasan memang bukan sebagai penentu seseorang sukses dimasa depan, namu orang yang sukses membutuhkan kecerdasan yang cukup untuk memproses informasi yang datang ke otaknya. Di dalam kecerdasan setidaknya terdapat 3 fungsi mental yaitu kecepatan pemprosesan informasi, penyelesaian masalah dan penalaran abstrak. Sedihnya, fakta menunjukkan bahwa Indonesia hanya menduduki peringkat peringkat 130 dari 199 negara dalam tingkat kecerdasan berdasarkan World Population Review tahun 2022.
 
Survey tingkat kreativitas dan intelegensi Indonesia sama-sama berada pada posisi rendah. Kenapa bisa demikian karena ternyata integensi memberikan peran terhadap kreativitas manusia. Seberapa penting kecerdasan supaya bisa jadi orang kreatif?
 
Sebuah studi yang dilakukan oleh Akhtar & Kartika (2019) menunjukkan bahwa Inteligensi memberikan sumbangan sekitar 10,5% terhadap kreativitas manusia. Artinya orang kreatif adalah betul orang yang cerdas. Namun tidak semua orang kreatif adalah orang jenius.  Maksudnya bagaimana?
 
Ada sebuat teori yang dikenal dengan teori ambang batas (Threshold Theory). Threshold theory berpendapat bahwa kemampuan intelektual merupakan syarat yang diperlukan untuk menjadi kreatif. 
Kecerdasan di atas rata-rata dianggap sebagai kondisi yang diperlukan tetapi tidak cukup untuk menghasilkan kreativitas yang tinggi. Lebih khusus lagi, diasumsikan bahwa ada ambang kecerdasan yang biasanya ditetapkan pada IQ 120. 

Teori ambang memprediksi bahwa ada korelasi antara kreativitas dan inteligensi pada kelompok sampel IQ rendah sampai rata-rata, sedangkan tidak ada korelasi antara kreativitas dan inteligensi pada kelompok sampel IQ tinggi. Orang dengan kecerdasan di bawah kecerdasan rata-rata memiliki sedikit peluang untuk menjadi sangat kreatif; mereka yang memiliki kecerdasan di atas ambang batas mungkin memiliki potensi kreativitas yang tinggi tetapi tidak terkait dengan tingkat IQ mereka.

Temuan penelitian Akhtar & Kartika (2019) ini mendukung teori ambang batas (threshold theory) yang menyimpulkan bahwa untuk menjadi orang yang kreatif tidak dibutuhkan IQ yang mencapai level sangat genius. Namun untuk menjadi orang kreatif dibutuhkan tingkat inteligensi yang berada pada ambang batas sebagai modal untuk melakukan sesuatu. Terlebih lagi, Akhtar dan Kartika menemukan ambang batas IQ yang diperlukan adalah 106, bukan 120 seperti hipotesis awal teori ini. Ketika seseorang sudah mencapai pada level IQ tertentu, peningkatkan inteligensi tidak begitu berperan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif.
 
Ternyata orang-orang dengan skor kreativitas tinggi tidak semuamya memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Namun, untuk menjadi orang kreatif kita butuh kecerdasan yang mencapai ambang batas. Setiap manusia mempunyai batas maksimal kecerdasannya. Batas maksimal skor inteligensi seseorang didapatkan dari gabungan fluid intelligence  dan crystallized intelligence. Fluid intelligence merupakan kecerdasan bawaan sedangkan crystallized intelligence adalah kecerdasan yang didapatkan dari proses belajar dan keterampilan yang diperoleh seumur hidup. Oleh karena itu bagi orang tua perlu mengoptimalkan perkembangan kognitif anak sejak dini dengan berbagai stimulasi dimasa golden age sebagai modal untuk sukses menghadapi tantangan dimasa depan.
 
Akhtar, H., & Kartika, Y. (2019.). Intelligence and creativity: an investigation of threshold theory and its implications. Journal of Educational Science and Psychology, 9(1), 131-138.

Bangkit dari Pengalaman Traumatis Pasca Perceraian dan Kehilangan Orang tua

April 18, 2023 Add Comment

  

Memiliki orang tua yang utuh dan harmonis adalah impian semua anak. Kenyataannya tidak semua anak memperoleh keberuntungan tersebut. Perceraian orang tua saja sudah memberikan pengalaman traumatis bagi anak. Apalagi kehilangan orang tua untuk selama-lamanya tentunya memberikan tambahan luka batin bagi anak. 

Anak dengan korban perceraian dan kematian kedua orang tua akan mengalami kesepian, kurangnya kasih sayang, rendahnya harga diri, sulit percaya dengan orang lain dan masalah ekonomi. Apalagi pasca kejadian traumatis tersebut anak dititipkan pada keluarga dengan menerapkan pola asuh Authoritaran (Otoriter) yang kerap melakukan kekerasan baik fisik maupun Psikologis. Maka sangatlah besar kemungkinan terjadinya penyimpangan perilaku karena anak kehilangan figure penting dalam hidupnya.

Bukan berarti dengan pengalaman traumatis tersebut anak kehilangan harapan untuk membangun masa depannya. Lalu berlarut menikmati kesedihan yang sulit untuk dihilangkan. Dibutuhkan suatu kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri setelah kejadian trauma yang menimpanya. Pengalaman traumatis dapat memicu munculnya masalah psikologi seperti depresi dikemudian hari.

Sebuah Artikel Penelitian yang dilakukan oleh Yuni Kartika tahun 2017 yang diterbitkan oleh International E-Journal of Advances in Social Sciences, bahwa Resiliensi menjadi modal Psikologis bagi seseorang yang telah mengalami kejadian traumatis. Ketahanan hidup (resilience) menjadi konsep positif yang meningkatkan kemampuan seseorang untuk mengatasi kejadian-kejadian negatif yang dialami dalam hidupnya. Resiliensi merupakan kapasitas untuk merespon secara sehat dan produktif ketika berhadapan dengan kesengsaraan atau kejadian trauma.

Resiliensi adalah konsep psikologis yang sangat kompleks dan tidak mudah untuk membangunnya dalam diri. Setidaknya ada 7 skill yang menyertainya, yaitu
1. Kemampuan meregulasi emosi,
2. Pengendalian impuls
3. Optimis
4. Kemampuan menganalisis penyebab masalah
5. Empati
6. Self efficy, yaitu percaya pada kemampuan diri sendiri untuk memecahkan masalah secara efektif
7. Reaching Out, merupakan kemampuan seseorang untuk membentuk suatu hubungan dengan orang lain dalam rangka membantu dalam meyelesaikan masalah.

Resiliensi bisa dibangun dan dilatih. Dibutuhkan rasa penerimaan, keyakinan dan lingkungan yang positif yang mendukung untuk bangkit dari kejadian traumatis tersebut.

Kegiatan positif yang bisa membantu seseorang  bangkit dan menerima kejadian traumatis dalam hidup adalah terlibat dalam kegiatan sosial. Seperti relawan mengajar, pengabdian masyarakat, relawan kebencanaan, mengikuti acara keagamaan dll. Kegiatan ini membantu seseorang berinteraksi dengan banyak orang dan mengamati kejadian hidup diluar dari dirinya sebagai refleksikan hidup.

Dengan megikuti kegiatan sosial juga dapat menghilangkan rasa kesepian dan membangun relasi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan minat. Kemampuan menemukan seseorang yang tepat dalam menyelesaikan masalah (reaching out) juga dapat dijembatani dengan kegiatan-kegiatan sosial ini. Dengan mengikuti banyak kegiatan sosial yang positif mampu memberikan energi positi agar fokus dalam menciptakan prestasi.
 
Sumber

Kartika, Y. (2017). Resilience: phenomenological study on the child of parental divorce and the death of parents.  IJASOS- International E-Journal of Advances in Social Sciences 3( 9),1035-1042.

Laki-laki Menilai Dirinya Lebih Cerdas Dibandingkan Perempuan

April 13, 2023 Add Comment


Laporan diri mengenai inteligensi menjadi bahasan yang cukup penting karena menggambarkan kesadaran diri dan berperan dalam kesuksesan individu. Berbeda dengan inteligensi psikometrik yang diukur dengan tes objektif, laporan diri mengenai inteligensi lebih bersifat subjektif yang merupakan persepsi individu terhadap kemampuan kognitif yang dimilikinya. Sudah lebih dari 40 tahun topik ini masih dibahas oleh para peneliti. Secara umum, laki-laki menilai dirinya memiliki inteligensi umum yang lebih tinggi dibanding perempuan. Namun apakah temuan itu masih relevan?

Inteligensi saat ini lebih dilihat secara multidimensi. Dia tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki beberapa jenis. Selain itu, kondisi masyarakat saat ini juga sudah sangat berbeda dibanding 40 tahun yang lalu, dimana sekarang perempuan jauh lebih mudah untuk memperoleh akses pendidikan. Oleh karenanya, Akhtar dan Silfiasari (2022) melakukan sebuah studi pada 869 mahasiswa di Indonesia untuk melihat apakah ada perbedaan dalam laporan diri mengenai inteligensi antara laki-laki dan perempuan. Penilaian tidak hanya dilakukan pada inteligensi umum saja, namun juga pada kemampuan yang lebih spesifik, seperti penalaran fluida (fluid reasoning), ingatan kerja (short-term working memory), ingatan jangka Panjang (long-term memory), pemahaman pengetahuan (comprehension knowledge), kecepatan pemprosesan (processing speed), dan pemrosesan visual (visual processing).

Hasil penelitian ini menujukkan bahwa secara umum, laki-laki menilai dirinya memiliki inteligensi yang lebih tinggi dibanding perempuan. Namun perbedaan ini tidak berlaku bagi semua kemampuan yang lebih spesifik. Laki-laki menilai dirinya memiliki kemampuan penalaran dan pemrosesan visual yang lebih baik dibanding perempuan. Namun dalam hal ingatan kerja, ingatan jangka Panjang, kecepatan pemrosesan, dan pemahaman pengetahuan, tidak ditemukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Temuan ini menegaskan temuan-temuan sebelumnya, dan berlaku universal baik di negara Barat maupun Timur.

Temuan ini menegaskan asumsi di masyarakat bahwa inteligensi erat kaitannya dengan maskulinitas. Laki-laki menilai dirinya lebih baik dalam hal penalaran dan pemrosesan visual karena dua kemampuan ini erat kaitannya dengan inteligensi umum. Hal ini dapat menjelaskan mengapa pekerjaan tertentu yang mengandalkan penalaran dan kemampuan spasial (misalnya sopir, pilot, insinyur) didominasi oleh laki-laki di Indonesia. Meskipun akses ke pendidikan sekarang sudah relatif setara untuk laki-laki dan perempuan, namun dalam hal penilaian subjektif mengenai kecerdasan, laki-laki masih dinilai lebih cerdas dibanding perempuan.

Referensi
Akhtar, H., & Silfiasari. (2022). A brief measure of self-reported cognitive abilities: Are males and females different?. Testing, Psychometrics, Methodology in Applied Psychology. 29(4), 475-493. https://doi.org/10.4473/TPM29.4.6