Siapa yang Lebih Banyak Berkorban dalam Hubungan? Perspektif dari Penelitian Psikologi
Dalam kehidupan sehari-hari, kita
sering mendengar anggapan bahwa perempuan adalah pihak yang paling banyak
berkorban dalam sebuah hubungan. Mereka dianggap lebih sering mengalah demi
keluarga, mengesampingkan karier, atau mendahulukan kebutuhan pasangan dan
anak. Namun, benarkah kenyataannya demikian? Sebuah penelitian yang dilakukan
oleh Eugenia Mandal pada tahun 2020 mencoba menjawab pertanyaan tersebut
melalui pendekatan Psikologi hubungan.
Penelitian ini melibatkan 144
orang dewasa berusia 20–50 tahun di Polandia. Para partisipan diminta
menjelaskan apa yang mereka anggap sebagai bentuk pengorbanan dalam hubungan
romantis serta alasan seseorang bersedia melakukan pengorbanan tersebut. Dari
hasil analisis, ditemukan bahwa bentuk pengorbanan yang paling sering muncul
bukanlah pengorbanan materi, melainkan pengorbanan terhadap karier, keluarga,
dan kesenangan pribadi. Banyak responden menganggap bahwa rela mengubah rencana
karier, mendahulukan kepentingan anak dan keluarga, atau mengurangi aktivitas
yang disukai merupakan bentuk pengorbanan yang paling nyata dalam hubungan.
Menariknya, penelitian ini
menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama bersedia berkorban, tetapi
bentuk pengorbanannya berbeda. Perempuan lebih sering mengaitkan pengorbanan
dengan peran keluarga, seperti mengurus anak, mengutamakan pasangan, atau
mengorbankan karier demi kehidupan keluarga. Sebaliknya, laki-laki lebih banyak
menggambarkan pengorbanan sebagai perubahan gaya hidup, seperti mengurangi
waktu bersama teman, meninggalkan kebiasaan tertentu, atau mengurangi
kesenangan pribadi agar dapat lebih fokus pada pasangan dan keluarga. Temuan
ini menunjukkan bahwa perbedaan bukan terletak pada tingkat pengorbanan,
melainkan pada cara pengorbanan tersebut diwujudkan.
Penelitian ini juga mengungkap
alasan yang mendorong seseorang rela berkorban. Mayoritas pengorbanan dilakukan
karena motif pendekatan (approach motives), yaitu keinginan
memperoleh hasil positif dalam hubungan. Alasan yang paling banyak disebut
adalah cinta, disusul keinginan membuat pasangan bahagia,
meningkatkan kualitas hubungan, dan menjalankan tanggung jawab sebagai
pasangan. Sebaliknya, alasan seperti tekanan dari keluarga, kewajiban sosial,
atau rasa takut kehilangan pasangan jauh lebih jarang disebutkan. Hal ini
menunjukkan bahwa sebagian besar pengorbanan dilakukan secara sukarela karena
adanya komitmen emosional terhadap hubungan.
Meskipun demikian, terdapat
perbedaan motivasi antara perempuan dan laki-laki. Perempuan lebih sering
menyebut cinta sebagai alasan utama mereka berkorban. Sementara itu, laki-laki
lebih banyak menekankan tanggung jawab, keinginan memperbaiki kualitas hubungan,
serta manfaat yang diperoleh hubungan ketika kedua pihak saling mendukung.
Temuan ini menggambarkan bahwa perempuan cenderung memandang pengorbanan
melalui aspek emosional, sedangkan laki-laki lebih sering menghubungkannya
dengan tanggung jawab dan fungsi hubungan.
Namun, penelitian ini juga
mengingatkan bahwa pengorbanan tidak selalu membawa dampak positif. Pengorbanan
yang dilakukan secara terus-menerus tanpa adanya keseimbangan dapat menimbulkan
kelelahan fisik maupun psikologis. Ketika seseorang merasa hanya dirinya yang
terus berkorban sementara pasangannya tidak melakukan hal yang sama, kepuasan
hubungan dapat menurun dan berpotensi memicu konflik. Oleh karena itu,
keseimbangan dan rasa saling menghargai menjadi faktor penting dalam menjaga
kualitas hubungan jangka panjang.
Secara keseluruhan, penelitian
ini memberikan pesan yang sederhana tetapi penting. Hubungan yang sehat memang
membutuhkan pengorbanan, tetapi pengorbanan tersebut tidak selalu memiliki
bentuk yang sama pada setiap individu. Perempuan dan laki-laki sama-sama
berusaha menyesuaikan hidup mereka dari yang semula berpusat pada diri sendiri
menjadi kehidupan yang lebih memprioritaskan pasangan dan keluarga. Yang
terpenting bukanlah menentukan siapa yang lebih banyak berkorban, melainkan
memastikan bahwa pengorbanan tersebut dilakukan secara sukarela, dihargai oleh
pasangan, dan berlangsung secara seimbang.
Artikel ini merupakan ulasan ilmiah berdasarkan penelitian Mandal (2020) mengenai pengorbanan dalam hubungan romantis.
Referensi
Mandal, E. (2020). Sacrifices
of women and men in close relationships: The types and structure of sacrifices.
The approach and avoidance motives for making sacrifices. Current
Issues in Personality Psychology, 8(4), 317–328. https://doi.org/10.5114/cipp.2020.101952
.jpg)
