Agustus 04, 2026

Siapa yang Lebih Banyak Berkorban dalam Hubungan? Perspektif dari Penelitian Psikologi

Ditulis oleh: Yuni Kartika, S.Psi., M.A.


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar anggapan bahwa perempuan adalah pihak yang paling banyak berkorban dalam sebuah hubungan. Mereka dianggap lebih sering mengalah demi keluarga, mengesampingkan karier, atau mendahulukan kebutuhan pasangan dan anak. Namun, benarkah kenyataannya demikian? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Eugenia Mandal pada tahun 2020 mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui pendekatan Psikologi hubungan.

Penelitian ini melibatkan 144 orang dewasa berusia 20–50 tahun di Polandia. Para partisipan diminta menjelaskan apa yang mereka anggap sebagai bentuk pengorbanan dalam hubungan romantis serta alasan seseorang bersedia melakukan pengorbanan tersebut. Dari hasil analisis, ditemukan bahwa bentuk pengorbanan yang paling sering muncul bukanlah pengorbanan materi, melainkan pengorbanan terhadap karier, keluarga, dan kesenangan pribadi. Banyak responden menganggap bahwa rela mengubah rencana karier, mendahulukan kepentingan anak dan keluarga, atau mengurangi aktivitas yang disukai merupakan bentuk pengorbanan yang paling nyata dalam hubungan.

Menariknya, penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama bersedia berkorban, tetapi bentuk pengorbanannya berbeda. Perempuan lebih sering mengaitkan pengorbanan dengan peran keluarga, seperti mengurus anak, mengutamakan pasangan, atau mengorbankan karier demi kehidupan keluarga. Sebaliknya, laki-laki lebih banyak menggambarkan pengorbanan sebagai perubahan gaya hidup, seperti mengurangi waktu bersama teman, meninggalkan kebiasaan tertentu, atau mengurangi kesenangan pribadi agar dapat lebih fokus pada pasangan dan keluarga. Temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan bukan terletak pada tingkat pengorbanan, melainkan pada cara pengorbanan tersebut diwujudkan.

Penelitian ini juga mengungkap alasan yang mendorong seseorang rela berkorban. Mayoritas pengorbanan dilakukan karena motif pendekatan (approach motives), yaitu keinginan memperoleh hasil positif dalam hubungan. Alasan yang paling banyak disebut adalah cinta, disusul keinginan membuat pasangan bahagia, meningkatkan kualitas hubungan, dan menjalankan tanggung jawab sebagai pasangan. Sebaliknya, alasan seperti tekanan dari keluarga, kewajiban sosial, atau rasa takut kehilangan pasangan jauh lebih jarang disebutkan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengorbanan dilakukan secara sukarela karena adanya komitmen emosional terhadap hubungan.

Meskipun demikian, terdapat perbedaan motivasi antara perempuan dan laki-laki. Perempuan lebih sering menyebut cinta sebagai alasan utama mereka berkorban. Sementara itu, laki-laki lebih banyak menekankan tanggung jawab, keinginan memperbaiki kualitas hubungan, serta manfaat yang diperoleh hubungan ketika kedua pihak saling mendukung. Temuan ini menggambarkan bahwa perempuan cenderung memandang pengorbanan melalui aspek emosional, sedangkan laki-laki lebih sering menghubungkannya dengan tanggung jawab dan fungsi hubungan.

Namun, penelitian ini juga mengingatkan bahwa pengorbanan tidak selalu membawa dampak positif. Pengorbanan yang dilakukan secara terus-menerus tanpa adanya keseimbangan dapat menimbulkan kelelahan fisik maupun psikologis. Ketika seseorang merasa hanya dirinya yang terus berkorban sementara pasangannya tidak melakukan hal yang sama, kepuasan hubungan dapat menurun dan berpotensi memicu konflik. Oleh karena itu, keseimbangan dan rasa saling menghargai menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas hubungan jangka panjang.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan pesan yang sederhana tetapi penting. Hubungan yang sehat memang membutuhkan pengorbanan, tetapi pengorbanan tersebut tidak selalu memiliki bentuk yang sama pada setiap individu. Perempuan dan laki-laki sama-sama berusaha menyesuaikan hidup mereka dari yang semula berpusat pada diri sendiri menjadi kehidupan yang lebih memprioritaskan pasangan dan keluarga. Yang terpenting bukanlah menentukan siapa yang lebih banyak berkorban, melainkan memastikan bahwa pengorbanan tersebut dilakukan secara sukarela, dihargai oleh pasangan, dan berlangsung secara seimbang.


Artikel ini merupakan ulasan ilmiah berdasarkan penelitian Mandal (2020) mengenai pengorbanan dalam hubungan romantis.

Referensi

Mandal, E. (2020). Sacrifices of women and men in close relationships: The types and structure of sacrifices. The approach and avoidance motives for making sacrificesCurrent Issues in Personality Psychology, 8(4), 317–328. https://doi.org/10.5114/cipp.2020.101952

 


Share this :

Pernah berkarir sebagai Dosen Psikologi di salah satu kampus swasta dan budak korporat di Hungary. Saat ini menjadi ibu rumah tangga nyambi affiliate, menulis di blog dan creator di media sosial.

Latest
Previous
Next Post »
0 Komentar