Penulis : Yuni Kartika, S.Psi., M.A
Selama
ini saya menutup mata dengan fenomena Pelacuran atau bahasa indahnya kupu-kupu
malam. Saya mengira pelacuran adalah keputusan maaf “bodoh” yang diambil
seorang perempuan. Kenyataannya, hanya hati saya yang tertutup dan memandang
sebelah mata profesi ini. Pemahaman saya terbuka setelah membaca buku karya
Wahyudin yang berjul “Pengakuan Pelacur Jogja”. Buku tersebut adalah
karya yang sangat komprehensif karena penulis turun langsung kelapangan melihat
lokasi dan mewawancari beberapa wanita yang menggeluti profesi ini.
Ada
beberapa poin yang saya rangkum setelah membaca buku tersebut. Pertama,
kebanyakan pelacur adalah Ibu Rumah Tangga. Hati saya rasanya teriris
mengetahui fakta ini. Mengingat saya juga adalah ibu rumah tangga. Saya paham
betul beban sebagai ibu rumah tangga. Mengurus suami, mengasuh anak dan mengurus
rumah. Sebuah rutinitas yang terjadi setiap hari tanpa bisa menolak
kejenuhannya. Beberapa perempuan merasa tidak punya skill yang dibanggakan
untuk mendapat pekerjaan layak sehingga mereka menggantungkan hidup kepada
suami. Namun saat suami terkena masalah ekonomi perempuan menjadi ikut terpuruk
dengan alasan ada anak yang mesti sekolah, ada kebutuhan makan, dan ada cicilan
mesti dibayar. Keadaan ini memaksa mereka ikut mencari nafkah.
Banyak
faktor penyebab, salah satunya adalah relasi pertemanan yang kurang baik membuat
dunia pelacuran menjari satu-satunya alternatif pilihan mencari uang. Akhirnya mereka terjebak, ketergantungan dan pasrah memohon pertolongan dari YME. Faktor resilient
yang kurang terbangun, membuat para wanita kurang cakap untuk bertahan
dalam situasi sulit dan memutuskan mengambil jalan pintas untuk mencapai keberhasilan.
Kedua, ternyata yang menggunakan jasa mereka diantaranya
adalah para pejabat kaya, punya profesi dan disegani rakyat. Sebuah fakta yang harus diketahui bahwa wakil rakyat juga ikut menjadi penyumbang yang ikut merusak harkat dan martabat para wanita. Membuat wanita terus tergantung
dengan pekerjaan ini, membuat laki-laki menjadi kecanduan dengan jasanya. Yang baik dipermukaan belum tentu mulia. Yang kotor
dipermukaan belum tentu hina.
Ketiga,
Profesi pelacur bisa menjadi objek dan bisa menjadi subjek. Objek bagi para
penikmatnya jasanya. Namun menjadi subjek untuk mendapatkan uang banyak dalam
waktu singkat. Pelajarannya adalah berhati-hatilah dalam memandang sesuatu. Banyaklah bersyukur jika pekerjaan yang tengah kita jalani bebas dari streotipe hina, kotor dan sampah masyarakat. Berhati-hatilah dalam berucap,
bersikap dan berperilaku terhadap orang lain apapun profesi mereka. Kita tidak pernah tahu seberat apa beban yang tengah mereka pikul dan sekeras apa perjuangan mereka ingin keluar dari profesi pelacur.
Dalam
perspektif pelacur sendiri, Upaya yang dilakukan untuk mengurangi profesi mereka selama ini hanya dilakukan dengan pendekatan preventif,
yang mereka butuhkan adalah solusi. Mereka ingin diberi pekerjaan, mereka ingin
digaji layak, mereka ingin tidak ada persyaratan yang memberatkan dalam mencari
kerja. Mereka ingin bersih, mereka ingin hidup sehat dan normal.
Jika pembaca artikel ini adalah seorang laki-laki, saya ingin menyampaikan bahwa sebelum perempuan menikah kebebasan ada ditangannya sendiri. Mereka memutuskan untuk membatasi hidup mereka demi ta’at kepada suami, demi anak yang butuh kehadiran ibunya. Namun, jangan gunakan kesempatan ini untuk mendzalimi perempuan dengan tidak ikut terlibat dalam urusan rumah tangga. Membiarkan perempuan mengasuh anak siang dan malam, menganggap mereka berkewajiban menyapu, mengepel, mencuci, memasak dll. Jika pembaca adalah perempuan, tetaplah semangat menjalani hidup dan terus berada pada garis kebenaran di jalan Tuhan, meski ujian datang tanpa henti.
Menikah adalah kerjasama antara suami istri membangun keseimbangan. Jika ada satu pihak yang merasa lebih berat bebannya maka sudah seharusnya membantu meringankan beban tersebut agar rumah tangga kembali seimbang lagi. Mari bangun work-life balace dengan baik.
Referensi Bacaan.
Wahyudin. 2022. Pengakuan Pelacur Jogja. Yogyakarta
: Lappera Pustaka
0 Komentar